Rabu, 02 Maret 2011

CERITA SUKA-SUKA KAMU
Mentari pagi bersinar dengan cerahnya. Tapi Nesya masih asik didalam kamar tidur dengan pulas. Sampai mamanya datang membangunkan. . .
“Nesya, bangun!! Sekarang sudah jam setengah tujuh. Memangnya kamu nggak pergi sekolah??”
“bentar, Ma. Sekolahnya dekat rumah juga. Tunggu lima menit lagi deh.”
“bentar, bentar, kemarin kamu juga bilang begitu. Tapi jadinya kamu telatkan ??”
“iya Mama, Nesya bangun. Bawel amat sih.” nesya akhirnya bangun menuju kamar mandi dan segera pergi ke sekolah
***************
Ternyata benar, Nesya hampir terlambat. Untung gurunya belum masuk, jadi dia masih bisa masuk kelas.
“eh, Nes, kok lo telat sih ?? tumben amat.” Tanya Rio yang tiba-tiba duduk disamping Nesya.
‘aduuh, Rio, hari ini kamu tetap perhatian sama aku.. senang banget.’hati nesya berbunga-bunga ketika melihat Rio. Sampai-sampai dia bingung mau jawab apa.
“nes, ?? lo denger nggak sih ??”
“yes, what??”
“gak jadi deh, ntar ajah. Soalnya Bu Indah udah datang”
“ok deh,,”
“pasti Rio mau bicara soal ceweknya lagi. Padahal kan udah putus. Please deh Rio, gue disini, deket lo, masa lo nggak nyadar sih??”
Pikiran Nesya buyar ketika Diona memanggil Nesya.
“Nesya, PR lo udah beres belum?? Gue mau cocokin sama PR gue. Liat dong.”
“iya, ntar ya.” Nesya lalu memberikan sebuah buku sama Diona.
“thanks ya.”
****************
Bel istirahat pun berbunyi. Seperti biasa, Nesya pergi ke kantin dengan tiga sohibnya. Siapa lagi kalau bukan Diona, Adel, dan Icha?? Mereka berempat selalu bersama. Nesya sendiri sangat sulit lepas dari mereka bertiga. Mungkin karena sudah bersahabat sejak kecil, makanya mereka sulit dipisahkan.
“adel, lo kok beli coklat itu lagi? Nggak bosan apa?” diona tanya dengan entengnya.
“kenapa sih? enak tau. Eh, Icha, lo beli apaan tuh? Bagi dong.” Tangan adel tanpa disuruh langsung mengambil makanan di tangan Icha. Nesya yang melihat tiga temannya yang pada jahil Cuma bisa tersenyum kecil sambil geleng-geleng kepala. Dia sendiri sama sekali belum membeli jajanan. Sehingga membuat Icha penasaran.
“Nes, lo nggak jajan ?”
“nggak ah. Bosan lihat jajanan yang itu-itu saja.”jawab Nesya sekenanya.
“ya sudah kalau begitu. Mending kita balik ke kelas.” Ajak Diona, yang diikuti dengan Icha dan Adel dibelakangnya. Nesya pun ikut juga. Ketika tengah asyik bercanda dengan Adel , tiba-tiba Rio muncul dan langsung ikut bergabung dengan Nesya.
“eh, Nes, sini bentar dong. Gue pengen ngomong sama lo.”
“sini aja deh. Lagipula cerita lo Cuma seputar Gina kan? Teman-teman lain juga udah pada tau.”
“jangan dong. Ya udah, kalau lo nggak mau gue cerita sekarang, ntar malam aja gue jemput lo dirumah. Gimana??”
“ok deh. Sip. Tapi ngomong-ngomong, gue haus banget nih, beliin minum dong. Nih uangnya.” Suruh Nesya sesukanya sama Rio.
Rio memang anak yang baik. Dia biasa dimintai tolong sama Nesya dan teman-teman yang lain. Meskipun agak cerewet, tapi Nesya tetap suka sama dia. Tapi Nesya tidak berani bilang ke siapapun, termasuk tiga sohibnya.
*****************
Piip..piip..piip..
Suara klakson mobil merusak konsentrasi Nesya yang tengah asik didepan laptop-nya. Nesya kesal setengah mati lalu mengintip keluar jendela. Tapi belum sempat melihat siapa yang datang, ha-pe Nesya berdering. Dari Rio. Nesya senang namun ogah-ogahan untuk mengangkatnya.
“halo?? Kenapa Yo ?”
“eh, Nes gue udah depan rumah lo nih. Keluar dong. Gue pengen ajak lo pergi.”
“iya, tunggu bentar. Gue ganti baju dulu.” Nesya lalu menutup teleponnya dan segera ganti baju. Seperti biasa, Nesya pergi dengan jeans dan jaket hoodie kesayangannya. Ketika ia keluar rumah, ternyata Rio sudah menunggu didalam mobilnya. Dengan segera Nesya masuk dan mobil Rio pun meluncur pergi.
Ditengah jalan, Rio memberhentikan mobilnya di pinggir danau dan keluar dari mobil. Nesya mengikut dari belakang.
“nesya, gue pengen cerita. Tapi lo harus dengerin gue ya??”
“iya, gue bakal denger. Tapi, bayar dulu utang lo yang kemaren.”
“iya, ntar gue bayar. Tapi dengar dulu, ok??”
“ya udah, cerita deh.”
Tatapan Rio mulai menerawang. Melihat danau dengan mata yang penuh gelisah. Melihat itu, Nesya mulai merasa ada yang aneh dengan Rio. Mereka hening sesaat. Sampai Rio mulai bercerita..
“nes, lo tau Gina, kan ?”
“iya, dan gue juga udah tau kalo lo suka sama dia. Terus ?”
“gue udah jadian sama dia seminggu yang lalu. Tapi gue udah putus sekarang, soalnya dia itu suka sama cowok lain. Katanya gue Cuma mainannya dia.”
“udahlah. Cewek kayak dia gak usah lo pikirin. Masih banyak kok cewek lain.” Nesya memberi semangat pada Rio.
“tapi lo tau kan, gue itu susah buat suka sama cewek. Dan kenapa juga setiap gue suka sama satu cewek, gue selalu di khianati.”
“itu sih, nasib lo aja yang jelek.”
“gue suka sama Gina. Gue nggak bisa lihat dia sama cowok lain” mata Rio mulai kosong kembali. Dia kembali menatap langit dengan tatapan galau. Nesya yang melihatnya sangat sedih. Rio yang selalu ceria di sekolah, sekarang menjadi Rio yang sangat lain. Bahkan Nesya mengira kalau Rio itu bukan Rio.
‘rio, seandainya tatapan itu buat gue, gue pasti nggak bakal buat lo kecewa. Kenapa sih, lo nggak sadar kalau gue itu selalu ada buat lo. Bahkan disaat lo rapuh begini. Kenapa lo nggak suka sama gue?? Gue disini, Rio. Please, lihat gue.’ Hati Nesya menjerit sedih. Tapi sayang, dia tidak berani mengatakan semua itu sama Rio. Dia tidak mau merusak persahabatan yang ada dengan Rio.
Nesya dan Rio diam dalam hening. Tiba-tiba, Rio memeluk Nesya. Nesya yang kaget hanya bisa diam terpaku seolah tidak percaya kalau Rio tengah memeluknya.
“Nes, lo sahabat gue. Please temenin gue disini sampai perasaan gue membaik” Rio kemudian melepaskan pelukannya.
“iya, Rio. Gue bakal disini sampai persaan lo tenang.” Kata Nesya sambil menepuk pundak Rio.
Satu jam, dua jam, tiga jam, Rio masih juga menatap dengan pandangan galau. Nesya yang sudah cukup lelah menemani Rio akhirnya tertidur di pundak Rio. Rio menyadarinya dan tertawa kecil. Dia lalu membangunkan Nesya dan mengajaknya pulang.
********************************BERSAMBUNG*************************
Pagi ini, tidak seperti biasanya, Nesya berangkat ke sekolah dengan dijemput oleh Rio. Wajah Nesya sangat ceria ketika dijemput oleh Rio. Dia dengan buru-buru berpamitan kepada orang tuanya begitu melihat mobil Rio datang menjemput. Entah apa yang terjadi semalam ketika Nesya diantar pulang oleh Rio.
“hei, Yo. Tumben banget lo datang buat jemput gue. Ada apa??” tanya Nesya ketika sudah duduk disamping Rio didalam mobil.
Rio hanya tersenyum kecil dan menjawab “nggak pa-pa, cuma iseng aja.”
Mata Nesya melotot dengan penuh tanda tanya. Dia sendiri bingung kenapa Rio bersikap seperti itu. Dan Nesya berusaha mengingat kejadian semalam

*flashback*
“Nesya, Nes,? Kita pulang yuk? “
“ha? Apa? Pulang? Emang kamu udah baikan?”
“iya, setelah gue pikir-pikir, lebih baik gue berusaha melupakan Gina. Daripada sakit hati, iyakan ?”
Nesya yang masih mengantuk hanya mengangguk-angguk tidak jelas dan dengan sempoyongan masuk kedalam mobil. Rio yang melihatnya juga langsung masuk kedalam mobil. Segera dia menyalakan mesin mobil dan mengantar Nesya pulang.
“assalamu alaikum.” Rio memberi salam didepan pintu rumah Nesya. Yang langsung dibuka oleh mama Nesya.
“walaikum salam. Ya ampun Nesya, kok kamu bisa tidur sih?”mamanya bertanya dengan heran.
“nggak pa-pa kok tante. Salah saya juga ajak Nesya pergi sampai larut malam begini. Maaf ya, tante.”
“nggak apa-apa Rio. Tante tau kamu anak baik dan nggak mungkin jahatin Nesya. Lagian ini juga belum malam-malam amat.” Mama Nesya memaafkan Rio karena dia juga sudah lama mengenal Rio. Dan Nesya juga sering cerita soal Rio yang selalu mau membantu Nesya.
“aduh mama, cerita lainkali aja. Nesya ngantuk pengen tidur.” Nesya lalu masuk kedalam rumah dan dari luar terdengar suara pintu kamar Nesya yang ditutup.
“kalau begitu Rio pulang dulu, tante. Sudah malam.” Rio berpamitan kepada mama Nesya. Dan segera masuk mobil. Mama Nesya juga masuk kedalam rumah.
************
Tibanya disekolah, Nesya sudah ditunggu oleh tiga kawan setianya. Begitu melihat Nesya masuk ke kelas bersama Rio, Adel yang paling ceria langsung bertanya sebelum Nesya duduk di bangkunya.
“eh Nes, ada apa lo sama Rio?”tanya Adel antusias.
“Nggak ada apa-apa. Kebetulan dia yang jemput pagi ini.”
“oh, gitu. Oia, Nes, bentar jalan yuk? Kebetulan gue lagi bawa mobil nih.” ajak Diona.
“wah, boleh tuh. Lagian besok itu kan minggu. Gimana?” jawab Icha dengan semangat.
“iya siip.” Nesya menjawab lalu duduk dibangkunya.
“ok deh.” Jawab Adel.
**************
“Nesya, ayo. Katanya mau pergi?”
“nggak tau tuh si Nesya. Eh, Diona,, emang kita mau pergi kemana?”
“ya kemana aja Adel. Lo kok lemot sih?”
“yee, Icha tuh yang lemot”
“enak aja. Gue sih, kalau diajak ngomong masih nyambung. Lo gimana?”
“aduh kalian itu jadi pergi nggak sih? kok malah berkelahi? ayo pergi.” Nesya dengan santainya pergi meninggalkan mereka. Tanpa sadar kalau sebenarnya yang ditunggu daritadi adalah dia.
“itu anak. Nggak tau apa kalau yang ditunggu daritadi itu dia?” gerutu Icha.
“tau tuh aneh. Lagian kunci mobil kan ada sama gue. Bego ya?” celoteh Diona.
***********
Diona, Nesya, Adel, dan Icha akhirnya memutuskan untuk pergi makan di salah satu kafe yang baru buka. Mobil Diona pun memarkir dengan sempurna di parkiran kafe. Kebetulan disaat yang bersamaan, mobil Rio juga memasuki halaman parkir.
Diona, Nesya, Adel, dan Icha lalu turun dari mobil. Mereka kaget bisa bertemu Rio, Made, dan Ridwan ditempat itu. Begitu pun dengan tiga cowok tersebut.
Rio, Made, dan Ridwan adalah teman kelas Diona, Nesya, Adel, dan Icha. Mereka semua cukup kompak didalam kelas dan juga teman akrab. Meskipun tidak seperti persahabatan Nesya, Diona, Icha, dan Adel.
“lho kok bisa ketemu disini? Kalian ikutin kita, ya?” tanya Ridwan tiba-tiba
“nggak tau tuh. Lo kali yang ikutin mobil kita” jawab Adel tidak mau kalah.
“ciee Adel. Marah-marah tapi senang juga tuh ketemu Ridwan disini.”goda Diona.
“apa sih? bukannya Nesya yang . .” Hupp!! Belum sempat Adel menyelesaikan omongannya, Nesya sudah duluan menutup mulut Adel dengan tangannya.
“kenapa Nes?” tanya Rio dengan heran.
“oh, nggak apa-apa. Udah yuk, kita makan aja. Daripada di parkiran nggak jelas kayak gini.” Jawab Nesya yang langsung pergi masuk cafe meninggalkan teman-temannya yang bingung melihatnya.
Setelah Nesya masuk, Diona, Icha, dan Adel juga ikut masuk. Disusul dengan Rio, Made, dan Ridwan. Mereka semua duduk dalam satu meja yang sama. Lalu memesan makanan.
“nasi goreng seafoodnya satu ya, mba” pesan Nesya dan Rio bersamaan. Rio melihat Nesya dengan heran, begitu juga Nesya.
“ccccciiieeeee... Suit..suuiitt...” teriak teman-teman Nesya dan Rio. Muka Nesya langsung berubah menjadi merah padam. Sementara Rio hanya menanggapinya dengan biasa saja.
Adduuuhh, sialan juga nih temen-temen gue. Nggak tau apa kalau gue itu suka sama Rio. Bikin malu aja muka gue merah padam gini didepan Rio. Gerutu Nesya.
“eh, udahan jahilnya. Kita makan dulu, makanannya udah datang nih.”tegur Diona.
“iya, mending makan dulu. Kalau mau ledek-ledekan, bentar aja. Gue udah laper nih.”
“iya, bawel amat sih” timpal Adel
“iya betul. Lebih baik kita makan dulu. Tidak baik makanan itu dibiarain dingin. Nanti jadi tidak enak. Sebagai manusia yang baik, kita tidak boleh menunda makan. Karena makan itu adalah hal yang wajib.” Made menjelaskan dengan panjang lebar.
“masa?? Aduh Made, lo tuh cerewet banget sih.”
“haha. . begitulah Made Junistya Dwi Wibawa” jelasnya dengan bangga.
Setelah beberapa perdebatan, mereka semua akhirnya makan juga. Sesudah makan, mereka pun pulang ke rumah mereka masing-masing.
Selama dalam perjalanan pulang, Nesya selalu memikirkan Rio.
“Eh, teman-teman gimana kalau kita adakan pesta?” kata Adel.
“Hmnn, boleh boleh aja. Gue sih g’ masalah. Tapi pesta apa? Dimana pestanya?” kata Diona.
“Hmnn, gimana kalau di rumah gue aja?” kata Nesya.
“Oke, sudah di putuskan bahwa pestanya diadakan besok. Tapi siapa yang bakalan kita undang?” tanya Icha.
“gila aja lo. Masa rencanain pesta hari ini, besok langsing direalisasikan ?” gerutu Diona
“ia, nggak tau tuh Icha aneh. Masa rencanain pesta hari ini, besok langsung rayaiin. Aneh banget tau. Lagipula, siapa yang mau datang di party nggak jelas kayak begini? Emang kalian udah ada daftar tamunya?”tanya Nesya panjang lebar.
“nggak ada sih. hehe.”cengir Adel.
“bego.”
“lo tuh.”
“ye, stress gila lo”
“tau ah, ribet ama lo”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar